| Raden Wirakusuma Wira Hwang Liong Samudra |
| Nama Lain | Kelahiran dan Kematian |
| Hwang Liong Aria Wiralodra Wiralodra | Lahir: 1421 Banyu Urip, Surabaya. Pindah: Banyu Biru Lowayu, Gresik. Pindah: Dermayu, Indramayu. Meninggal: 1513 Dermayu, Indramayu. |
| Gelar | Keterangan gelar berdasarkan tahun |
| Laksamana Angkatan Laut Wira Hwang Liong Samudra (Wiralodra) | Laksamana Angkatan Laut Dinasti Ming – Kerajaan Majapahit 1467-1477 |
| Sultan Wirakusuma (Sultan Dermayu ke-2) | Kesultanan Dermayu 1477-1513 |
| Kaisar Hwang Liong (Huang Long) | Kekaisaran Dermayu 1477-1513 |
| Istri | Ratu Tan Siew Eng atau Siew Eng Tan (En dang) |
| Anak | Raden Jaka Abdull Zheng Qin San (Sultan Dermayu ke-3) |
| Orang Tua | Raden Jaka Pa Kung (Samudra) (Syeikh Abdul Faqih). Dwi Warda (Shi Daniang). |
| Kerabat atau Keluarga | Syeikh Dzatul Khafi (sek ko po). Syeikh Quro Hwat. Syeikh Tang Go Hwat. Laksamana Zheng Quan Long (Kakek). Sultan Abdul Supeno (Giri)-adik. Ainul Rengganis-adik. |
| Kakek atau Nenek | Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) Syeikh Maulana Ishaq. Dwi Rara Sekar (Putri Raja Blambangan). |
| Cucu | Raden Zhainal Wirakusuma. Raden Permana Kusuma (Jaka Tang Rum-Jebug Angrum). |
Pangeran Wirakusuma lahir di Desa Banyu Urip Surabaya. Namun pada usia remaja, Raden Wirakusuma bersama keluarganya pindah ke Desa Banyu Biru Lowayu Giri (Gresik), dikarenakan Raden Jaka Pa Kung ayahnya mendirikan Padepokan agama Islam di Giri (Gunung Gresik). Raden Wirakusuma memiliki nama sebutan Raden Hwang Liong.
Pada usia usia muda, Raden Wirakusuma dididik ajaran agama Islam di Banyu Biru Lowayu Giri oleh ayahnya yaitu Raden Jaka Pa Kung (Jaka Samudra) atau Syeikh Abdull Faqih. Ibunya yang bernama Dwi Warda (Siew Daniang) berasal dari desa Banyu Urip Surabaya dan putri dari Laksamana Zheng Quan Long seorang Laksamana Angkatan Laut Dinasti Ming (Kaisar Yongle).
Pada usia dewasa, Raden Wirakusuma atau Hwang Liong diperintah oleh ayahnya pergi ke barat untuk berguru kepada Sek Ko Po (Syeikh Dzatul Khafi) di Desa Bondan Gumi Hwang dekat Kali Bengawan Gumi Hwang dan juga Raden Wirakusuma diperintah untuk berguru kepada Sek Kuro Hwat (Syeikh Quro) dan Sek Tan Go Hwat (Syeikh Tang Go Hwat) di Padepokan Tanjung Pura dekat Kali Bengawan Tanjung Pura (Karawang). Padepokan Tanjung Pura atau Tanjung Quro didirikan oleh Syeikh Quro asal Negeri Syam.
Setelah sampai di desa Bondan, Raden Wirakusuma berguru kepada Sek Ko Po atau Syeikh Dzatul Khafi (Sunan Gunung Sari-Gumi Hwang) Sukagumuwang Indramayu, serta berguru kepada Syeikh Somaddudin putra Syeikh Subaqir (Subakhir) di desa Gunung Sari Gumi Hwang (sukagumiwang Indramayu) dan kemudian berguru kepada Syeikh Tan Go Hwat di desa Juntinyuat.
Setelah lama di daerah Gumi Hwang, Raden Wirakusuma kemudian melanjutkan perjalananya ke Padepokan Tanjung Pura untuk berguru kepada Syeikh Quro. Setelah lama menuntut ilmu ajaran agama Islam atau berguru kepada Syeikh Quro di Tanjung Pura (Karawang), Raden Wirakusuma menikah dengan Nyimas Ratu Siew Eng Tan dengan nama Jawa En Dang asal Fujian, Tiongkok.
Syeikh Tang Go Hwat menikah dengan Nyimas Tjoen Tien (Nyimas Junti alias Pandansari) dan menurunkan putri bernama Nyimas Xiao Ban Xi atau Xiao Ban Chi yang lahir di desa Juntinyuat (Tjoen Tien – Hwat) kemudian mereka pindah ke wilayah Majapahit timur dan disana Xiao Ban Chi dinikahi oleh Prabhu Arya Kertabhumi ayah dari Raden Damar Aryo.
Setelah pernikahaannya, Raden Wirakusuma bersama Xiao Eng Tan menurunkan putra Raden Zhang Qin San. Raden Wirakusuma menggantikan kakeknya yaitu Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) seorang utusan Kaisar Yongle Dinasti Ming. Raden Wirakusuma mendapatkan gelar Laksamana Wira Hwang Liong Samudera (wiralodra).
Selama menjabat sebagai Laksamana Angkatan Laut Dinasti Ming, dia juga bekerja sebagai penghubung Dinasti Ming dengan Kerajaan Majapahit di Jawa. Kakeknya yang bernama Zheng Quan Long memberi pusaka Hwang Liong yang berbentuk palang delapan atau berbentuk kemudi kapal laut kepada Wiralodra cucunya. Sebelumnya pusaka Hwang Liong Kekaisaran.
Selama mengabdikan diri ke Kerajaan Majapahit, yang bekerja sebagai pelindung kapal dagang milik penduduk Majapahit dan Tiongkok yang berlalu lalang di perairan Nusantara, perdagangan laut dan darat membuat ekonomi penduduk Indramayu saat itu meningkat pesat namun masih dalam kekuasaan Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya (Indrwijaya) Kerajaan Majapahit.
Kesultanan Dermayu didirikan pada tahun 1473 oleh Raden Damar Aryo atau Arya Damar yang bergelar Sulthonul Dermayu. Dia juga memindahkan Pangeran Senopati Palembang ke Indramayu. Pendirian Kesultanan Dermayu oleh Raden Damar Aryo sebagai dasar membentuk kekuatan untuk merebut kembali takhta Kerajaan Majapahit yang sebelumnya direbut oleh Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya (Indrawijaya) yang telah membunuh ayah Raden Damar Aryo yaitu Prabhu Kertabhumi.
Raden Damar Aryo menyelamatkan Istri Bapaknya yaitu Xiao Ban Chi dari pembunuhan Wardhana, dengan membawanya ke tempat lahir Xiao Ban Chi di Indramayu. Setelah mengetahui, bahwa Pangeran Damar Aryo akan menggulingkan kekuasaannya di Majapahit, dengan segera Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya (Indrawijaya) meminta pasukannya menyerbu Dermayu.
Pasukannya mengalahkan Dermayu, hingga Sultan Damar Aryo dan Pangeran Senopati Palembang terbunuh, termasuk Xiao Ban Chi yang dikabarkan menceburkan diri ke Sungai Bengawan Dermayu tanpa diketahui jasadnya, namun Raden Fatah diselamatkan Raden Wirakusuma (wiralodra) dengan membawanya ke Palembang.
![]() Lambang Kekaisaran Islam Dermayu bernama Hwang Liong atau dalam arti Naga Kuning, yang mana simbol ini pemberian dari Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) (kakek). © Simbol Kesultanan Dermayu Hwang Liong atau Naga Kuning juga disematkan pada situs 23 Pangeran Senopati Palembang dan Makam Sultan Damar Aryo bernama Makam Selawe. |


