| Pangeran Ngabehi Prawiralodra Raden Bagus Taka atau Singataka |
| Nama Lain atau Gelar | Kelahiran dan Kematian |
| Raden Bagus Taka (Singotoko) | Lahir: 1654 Kedu, Bagelen. Meninggal: Kedu, Bagelen |
| Pangeran Hangabehi Prawiralodra (Pangeran Panembahan Sumedang) | 1673-1678 |
| Gagak Singalodraka | Tumenggung Bagelen III 1678-1720. |
| Saudara Kandung | Pangeran Wangsanegara. Pangeran Wangsayuda. Pangeran Tanujiwa. Pangeran Tanujaya. |
| Orang Tua Ayah Ibu | Raden Wirasuta (Nasuta) gelar Tumenggung Wiraguna. Nyimas Ajeng Lasmi Pujiwati. |
Berawal dari Rangga Gempol seorang Pangeran Panembahan Sumedang di Kesultanan Dermayu tahun 1656 sampai tahun 1673. Rangga Gempol menjabat sebagai mentri Syah Bandar pelabuhan Dermayu di Barangkasi (Bekasi).
Namun Rangga Gempol memilih untuk berhenti menjabat sebagai syah bandar di Dermayu zaman Sultan Anom Badaruddin Kertawijaya bertahta di Kesultanan Dermayu, dikarenakan Rangga Gempol ingin mendirikan Kerajaan Sumedang dan berdaulat dari Kesultanan Mataram.
Hal ini berawal dari Sultan Anom Singaprahwangsa atau Sultan Dermayu ke-8 yang membawa Dermayu berdaulat dari Mataram, dengan demikian pada saat menjabat di Dermayu, Rangga Gempol berkeniatan mengikuti cara Dermayu berdaulat dari Mataram.
Pada saat keributan Trunojoyo di Mataram, Rangga Gempol telah menyiapkan suatu kedaulatan untuk Sumedang. Pada tahun 1673, Rangga Gempol memutuskan berhenti menjabat di Dermayu dan mendirikan kembali Kerajaan Sumedang Larang di Tegal Kalong.
Kerajaan Sumedang berdiri sekitar tahun 1673 di Tegal Kalong, untuk menghindari permusuhan dengan Mataram, Rangga Gempol melakukan Panembahan Pangeran dari Mataram, seperti:
- Pangeran Wangsanegara (wirasetya).
- Pangeran Wangsayuda (wirayuda).
- Pangeran Ngabehi Prawiralodra (bagus taka).
- Pangeran Tanujiwa.
- Pangeran Tanujaya.
Kelima Pangeran Panembahannya ini berasal dari Kedu, Bagelen dan mereka adalah sama-sama saudara kandung, beberapa catatan lama menyebutkan mereka adalah anak angkat dari Raden Nilasraba Tumenggung Bagelen ke-II. Pendirian Kerajaan Sumedang Larang di Tegal Kalong tidak bertahan lama, Kesultanan Banten dengan Perwira Perangnya yang bernama Sultan Haji putra Sultan Tirtayasa menyerang Sumedang, Rangga Gempol bersama Pangeran Panembahannya yang bernama: Pangeran Wangsayuda, Pangeran Tanujiwa dan Pangeran Tanujaya meninggal dan dimakamkan di Tegal Kalong.
Pangeran Wangsanegara dan Pangeran Ngabehi Prawiralodra berhasil selamat dari serangan tersebut dengan melarikan diri ke Kesultanan Dermayu dijaman Sultan Anom Kertawijaya (Indrawijaya) bertahta tahun 1671-1686. Pada pelariannya di Dermayu, Pangeran Wangsanegara yang bernama lahir Raden Wirasetya bersembunyi di desa Pegaden (sekarang daerah subang), sedangkan Pangeran Ngabehi Prawiralodra yang bernama asli Raden Bagus Taka atau Wirantaka bersembunyi di desa Pengauban. Kemudian keduanya diserahkan ke Sultan Kertawijaya di Keraton Dermayu yang baru (karawang).
Sultan Badaruddin Kertawijaya memulangkan keduanya ke Mataram, namun mereka menolak dipulangkan ke Mataram karena takut dihukum mati di dalam kandang macan oleh Sunan Hamangkurat ke-II. Demikian mereka memilih untuk dipulangkan ke tempat lahir mereka di Kedu Bagelen. Raden Wirasetya dengan gelar sebelumnya yaitu Wangsanegara, merubah gelarnya menjadi Singapatih, sedangian Raden Bagus Taka dengan gelar sebelumnya yaitu Ngabehi Prawiralodra, merubah gelarnya sendiri menjadi Singataka (Singotoko).
Sumber : Babad Dermayu asli cerita lurus, bukan Babad Dermayu Karangan para dalang.
Baca juga Raden Aria Wiralodra pendiri Indramayu dari Banyu Urip Surabaya.

