Pendiri Indramayu adalah Raden Damar Aryo atau Arya Damar. Nama Dermayu berasal dari nama Damar Aryo kadang disebut Damaryo hingga menjadi Dermayu.
Nama Dermayu berasal dari nama Nyi Endang Darma Ayu adalah Karangan Pemerintah Indramayu tahun 1977, yang bersumber pada Babad Dermayu Karangan para Dalang Seni.
Sejarah Indramayu
Berawal dari hubungan Majapahit dengan Dinasti Ming akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 atau tahun 1379 sampai 1433. Saat itu Tiongkok berada dalam kekuasaan Dinasti Ming, Kaisar Yongle mengirim Laksamana Zheng He berserta armadanya untuk berlayar.
Tujuannya adalah untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Kerajaan-Kerajaan di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika. Zheng He adalah Laksamana muslim yang juga membawa para Pejabat, Pedagang dan Anak buah kapalnya mencapai Nusantara pada tahun 1405.
Mereka adalah orang-orang muslim dan menjalin kerja sama dengan Melaka, Palembang dan Majapahit. Pada masa tahun 1405, Indramayu masih berada pada kekuasaan Kerajaan Majapahit dan daerah Indramayu hanya sedikit penduduk Majapahit yang tinggal.
Setelah pelayarannya di Malaka, Zheng He kembali berlayar ke Ormuz Persia (iran) dan Zheng He membawa tokoh-tokoh Ulama dari Persia itu ke Jawa. Kedatangan kedua Zheng di Indramayu ini mendarat pada tahun 1412 di pantai Eretan.
Rombongan Zheng He memilih menetap di Indramayu setelah mendapat izin oleh Prabhu Arya Kertabhumi Majapahit melalui jual beli tanah, mereka mulai mendirikan desa-desa di Indramayu. Pelaut-pelaut Tiongkok muslim banyak menikahi penduduk Jawa Indramayu hingga membentuk penduduk Peranakan, separuh Tionghoa separuh Jawa.
Melalui pernikahan ini banyak penduduk Indramayu menjadi penduduk muslim. Salah satu tokoh yang dibawa oleh Zheng He ke Indramayu adalah Syeikh Koh Po alias Syeikh Dzatul Khafi yang menikah dengan Nyimas Kencana Wungu warga Jawa Gumi Hwang (sukagumiwang, Indramayu). Termasuk juga Syeikh Subakhir asal Ormuz persia yang menetap di Indramayu dan menikahi warga Jawa Indramayu bernama Nyimas Ratu Mandi.
Salah satu rombongannya adalah Nyimas Tjoen Tien (pandansari) pendiri desa Junti putri Hwang Jinghong (Dampu Awang) Sam Po Toa Lang. Nyimas Tjoen Tien adalah tokoh penyebar agama Islam yang berguru pada Syeikh Koh Po di Gumiwang, Nyimas Tjoen Tien dinikahi Tan Go Hwat putra Syeikh Koh Po.
Dari pernikahaan Tan Go Hwat dengan Nyimas Tjoen Tien menurunkan Nyimas Ratu Xiao Ban Xi atau Xiao Ban Chi di Juntinyuat. Nama Juntinyuat berasal dari nama Nyimas Tjoen Tien (Junti) dan Tan Go Hwat (Wat). Keduanya kemudian pindah ke Majapahit timur dan Xiao Ban Chi dinikahi oleh Prabhu Arya Kertabhumi penguasa Majapahit.
Sungai Manukan yang saat ini bernama Cipunagara di Pamanukan Subang adalah perbatasan antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Majapahit di sisi timurnya. Pangeran Damar Aryo pernah menjabat di Kerajaan Sriwijaya di Palembang, ketika mendengar Ayahnya di kudeta, dia kembali ke Majapahit.
Prabhu Arya Kertabhumi adalah ayah Raden Damar Aryo, namun Kertabumi terbunuh oleh Girindrawardhana Ranawijaya (Indrawijaya) yang merebut takhta Kerajaan Majapahit. Wardhana hendak membunuh Xiao Ban Chi, tetapi Raden Damar Aryo membawa Xiao Ban Chi ke wilayah Majapahit di barat (Indramayu) tempat Xiao Ban Chi dilahirkan dan tempat orang tuanya tinggal. Saat itu Xiao Ban Chi sedang mengandung dan tidak lama melahirkan Raden Fatah.
Girindrawardhana Ranawijaya menuduh Raden Damar Aryo membunuh ayahnya dan dia juga dituduh membawa istri ayahnya itu ke barat. Tuduhan itu seolah-oleh Kertabhumi terbunuh oleh Raden Damar Aryo merebut istri Ayahnya, dengan tuduhan itu, Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya menjadi penguasa Majapahit.
Untuk memperkokoh Kerajaan Dermayu, Raden Damar Aryo memindahkan Pangeran Senopati Palembang dan Raden Wirakusuma seorang Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Majapahit yang bergelar Hwang Liong. Mendengar Damar Aryo akan menggulingkan takhtanya di Majapahit oleh para mata-matanya yang menyusup ke Dermayu, dengan cepat Prabhu Girindrawardhana memerintahkan pasukannya untuk menyerang Dermayu.
Serangan itu membuat Sultan Damar Aryo dan para Pangeran Senopati Palembang terbunuh, Xiao Ban Chi menyelamatkan diri dengan menceburkan dirinya ke bengawan Dermayu, tetapi Raden Fatah diselamatkan Raden Wirakusuma dengan membawanya bersembunyi di Palembang selama beberapa tahun.
Raden Fatah menuntut dendam atas meninggalnya Ibu Kandungnya Xiao Ban Chi dan pamannya Raden Damar Aryo di Indramayu, Raden Fatah dan Raden Wirakusuma memutuskan untuk merebut Dermayu dan pesisir utara Jawa, dengan meminta bantuan Kerajaan Sukadana di Kalimantan dan Sultan Muhammad Syah penguasa Kesultanan Samudra Pasai. Sebagai imbalan, wilayah Kerajaan Sriwijaya Palembang di Jawa (Tanggerang, Jakarta, Bekasi, Depok, Karawang, Purwakarta, Subang Barat) digadaikan kepada Sultan Muhammad Syah dari Pasai.
Pasukan gabungan Sukadana yang dipimpin Raden Wirakusuma menyerang untuk merebut Dermayu hingga pasukan Wardhana mundur dan pergi meninggalkan Dermayu, sementara pasukan gabungan lainnya yang dipimpin Raden Fatah menyerang Jawa Tengah di Demak. Penduduk pesisir utara memberontak kepada Majapahit.
Prabhu Girindrawardhana mundur ke selatan Jawa dan membangun kepemerintahan barunya di selatan, pasukannya terpojok serta tidak memiliki banyak kekuatan untuk melawan akibat kehilangan kekuasaannya di Jawa yang telah direbut Fatah, Demak didirikan sebagai kekuatan baru dipesisir.
Sementara itu, Raden Fatah menuntut dendam, sekaligus untuk merebut takhta Kerajaan atas dasar hak putra mahkota Prabhu Arya Kertabhumi yang telah dibunuh oleh Wardhana. Jatuhnya Majapahit kedalam kekuasaan Demak menjadikan Demak sebagai Kerajaan Islam terbesar. Raden Fatah dinobatkan sebagai Sulthonul Fataruddin Abdullah (Fatahillah).
Kerajaan Dermayu dilanjutkan oleh Raden Wirakusuma yang dinobatkan sebagai Sultan Dermayu ke-II oleh Sultan Muhammad Syah, Sultan Fataruddin Abdullah dan menjadi awal Kekaisaran Dermayu dimulai tahun 1477.
Pangeran Wirakusuma
Pangeran Wirakusuma adalah putra Raden Jaka Pa Kung atau Jaka Samudra yang bernama Syeikh Maulana Abdull Faqih (sunan giri) atas pernikahaanya dengan Shi Daniang putri Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) di desa Banyu urip Surabaya.
Raden Jaka Pa Kung alias Jaka Samudra adalah putra dari Syeikh Maulana Ishaq asal Samarkhand Uzbekistan yang tinggal di Jawa, Syeikh Maulana Ishaq adalah putra Syeikh Husyahin Jamaluddin Al-Akhbar asal Uzbeksitan.
Syeikh Maulana Ishaq menikah dengan Dwi Rara Sekar putri Prabhu Menak Sembayu Raja Kerajaan Blambangan ke-II, juga putra dari Prabhu Wirabhumi Raja Blambangan ke-I, yang juga Wirabhumi juga Putra Prabhu Hayam Wuruk penguasa Majapahit.
Dari pernikahaan Syeikh Maulana Ishaq dengan Nyimas Ratu Dwi Rara Sekar menurunkan putra Raden Jaka Maulana Abdull Faqih alias Jaka Samudra, kemudian Jaka Samudra pindah ke desa Banyu Urip Surabaya dan menikah dengan Shi Daniang (Dwi Wardha).
Pada desa Banyu urip Surabaya ini, Shi Daniang menurunkan tiga anak yang bernama : Raden Wirakusuma, Raden Abdull Supeno dan Dwi Ayu Rengganis. Setelah Raden Jaka Samudra dinobatkam sebagai Ulama Banyu Urip Surabaya, kemudian Raden Jaka Samudra membawa istri dan anaknya pindah ke desa Banyu Biru Lowayu, Gresik Jawa Timur.
Raden Jaka Samudra di gunung Gresik mendirikan Padepokan agama Islam yang cikal bakal menjadi Kasuhunan Giri. Raden Wirakusuma diperintah oleh ayahnya untuk pergi ke wilayah Majapahit di barat (Indramayu) untuk berguru kepada Syeikh Koh Po (Dzatul Khafi) di sekitar bengawan Gumiwang.
Setelah sampai dan lama belajar, dia kemudian diperintah untuk pergi ke desa Juntinyuat untuk berguru kepada Syeikh Tan Go Hwat dan Nyimas Tjoen Tien, setelahnya dia kembali diperintah untuk pergi ke desa Lemah Abang (indramayu) untuk berguru kepada Syeikh Subaqir, setelagnya dia kembali diperintah untuk pergi ke Padepokan Tanjung Pura (karawang) untuk berguru kepada Syeikh Quro Hasanuddin.
Setelah lama belajar, Kakeknya yang bernama Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) menurunkan jabatannya kepada cucunya yaitu Raden Wirakusuma dengan gelar Laksamana Wira Hwang Liong Samudra atau disingkat Wiralodra.
Selama menjabat sebagai Laksamana Majapahit, Wirakusuma ditugaskan sebagai penghubung Kerajaan Majapahit dengan Dinasti Ming. Setelah kejadian perang Dermayu dengan Wardhana, Wirakusuma menjadi penerus takhta Arya Damar atau Damar Aryo di Indramayu.
Raden Wirakusuma menikah dengan Nyimas Ratu Tan Siew Eng warga Tionghoa Dermayu, dan dari perikahaan itu menurunkan Pangeran Jaka Abdull Zheng Qingsan yang juga pernah menjadi wirapati Demak.
Kisah Pelarian Ngabehi Prawiralodra ke Indramayu
Pangeran Ngabehi Prawiralodra dengan nama asli Raden Bagus Taka lahir di Kedu Bagelen, dia adalah putra Raden Wirasuta seorang Tumenggung Bagelen bergelar Tumenggung Wiraguna.
Raden Wirasuta sebelumnya adalah pemimpin Bagelen yang berhasil menyatukan Bagelen kedalam kekuasaan Mataram, oleh karenanya Sunan Hanyakrawati memberinya gelar Tumenggung Wiraguna atau perwira yang berguna.
Raden Wirasuta disebut juga Nasuta memiliki istri bernama Nyimas Ratu Ajeng Lasmi Pujiwati dan menurunkan putra Raden Wirasetya, Raden Wirayuda dan Raden Bagus Taka.
Saat anak-anaknya itu masih kecil, Nyimas Ratu Ajeng Lasmi Pujiwati diculik hingga hamil oleh Raden Mas Sayiddin putra Sunan Hanyakrakusuma Mataram. Raden Wirasuta yang mengetahui istrinya hamil oleh putra Hanyakrawati memberontak ke Mataram, setelah memberontak di ditangkap dan dituduh sebagai pelaku pemerkosaan Retno Gumilang istri Raden Panjang Mas. Hingga Raden Wirasuta dihukum mati oleh Mataram, padahal pelaku pemerkosaan adalah Raden Mas Sayiddin putra Mataram.
Hasil hubungan itu, Ajeng Lasmi Pujiwati menurunkan putra kembar bernama Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa. Ketika Raden Mas Sayiddin dinobatkan sebagai penerus takhta Mataram yang bergelar Sunan Hamangkurat I, Lasmi Pujiwati menuntut kepada Sunan, agar anak-anak hasil hubungan itu diangkat menjadi keluarga kerajaan Mataram.
Akan tetapi, Sunan Hamangkurat justru akan membawa anak itu ke kandang macan, namun diselamatkan oleh Raden Mas Rahmat yang sedang berselisih dengan Sunan. Anak-anaknya itu kemudian dititipkan kepada Tumenggung Bagelen bernama Raden Nilasraba.
Pada saat terjadi pemberontakan Trunojoyo di Pleret Mataram, Rangga Gempol yang sebelumnya menjabat sebagai syah bandar di Karawang Kesultanan Dermayu jaman Sultan Badaruddin Kertawijaya bertakta dan melihat Dermayu merdeka dari Mataram, Rangga Gempol memutuskan berhenti bekerja di Dermayu dan Rangga Gempol mendirikan Kerajaan Sumedang Larang pada tahun 1674 selama beberapa tahun.
Saat pemberontakan telah berhenti pada tahun 1674, Sunan Hamengkurat ke-I mengirim Pangeran Panembahan Mataram asal Kedu Bagelen yang bernama Raden Wirasetya, Raden Wirayuda, Raden Bagus Taka, Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa.
Raden Wirasetya diberi gelar Wangsanegara, Raden Wirayuda diberi gelar Wangsayuda, Raden Bagus Taka diberi gelar Ngabehi Prawiralodra, tetapi Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa diberi Wangsapati, kelimanya masih cukup muda. Mereka di kirim sebagai Panembahan Mataram di Sumedang. Sunan Hamangkurat ke-I digantikan oleh Raden Mas Rahmat sebagai Sunan Hamangkurat ke-II pada tahun 1677.
Pada bulan Mei tahun 1678, Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Haji putra Sultan Tirtayasa menyerang Kerajaan Sumedang, hingga Rangga Gempol berserta para Pangeran Panembahan Mataram di Sumedang terbunuh, Rangga Gempol, Raden Wirayuda, Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa dimakam di Tegalkalong Sumedang, sedangkan Raden Wirasetya dan Raden Ngabehi Prawiralodra alias Bagus Taka melarikan diri ke Kesultanan Dermayu.
Tahun 1678, Kesultanan Dermayu sedang dipimpin Sultan Badaruddin Kertawijaya generasi ke-8 Raden Wirakusuma (wiralodra Indramayu). Pangeran Daeng Morontolo yang mendengar ada Pangeran Mataram yang melarikan diri ke Dermayu, dengan cepat menyisir desa ke desa dan menangkap Raden Wirasetya di Manukan (pamanukan subang).
Sedangkan Raden Bagus Taka Ngabehi Prawiralodra ditangkap di desa pengauban oleh Ki Sidum, keduanya kemudian dibawa ke Keraton Dermayu di Karawang untuk diserahkan kepada Sultan Kertawijaya. Mereka kemudian dibawa Kertawijaya untuk dipulangkan ke Mataram, namun ditengah perjalanan mereka menolak dibawa ke Mataram, karena takut dihukum mati di kandang macan oleh Sunan Hamangkurat ke-II.
Mereka memilih untuk dipulangkan ke Kedu, Bagelen, Jawa Tengah. Di Bagelen, Raden Wirasetya dengan gelar sebelumnya yaitu Wangsanegara merubah gelarnya menjadi Singapati, sedangkan Raden Bagus Taka dengan gelar sebelumnya yaitu Ngabehi Prawiralodra merubah gelarnya menjadi Singataka (Singotoko).
Perbedaan Wiralodra Indramayu dengan Ngabehi Prawiralodra
Wiralodra Indramayu dengan Ngabehi Prawiralodra adalah dua tokoh yang berbeda. Wiralodra Indramayu memiliki nama asli Raden Wirakusuma yang makamnya di Indramayu.
Namun kesalahan pemugaraan Makam oleh Pemerintah Indramayu tahun 2010, yang mana Makam Raden Wirakusuma bersama istrinya berubah nama. Makam Raden Wirakusuma saat ini bernama Raden Bagus Arya Wiralodra dengan gelar Prabhu Indrawijaya, sedangkan makam Istrinya yang bernama Nyimas Ratu Tan Siew Eng saat ini makamnya bernama Si Tinggil.
Kesalahan itu oleh Pemerintah Indramayu yang mempercayai Babad Karangan. Sedangkan Raden Bagus Taka yang bergelar Ngabehi Prawiralodra ada di Bagelen Jawa Tengah dengan Makam bernama Singataka, dan Raden Bagus Taka (Ngabehi Prawiralodra) bukan pendiri Indramayu.

