
Kesultanan Darmayu atau lebih tepatnya Kekaisaran Islam Dermayu yang didirikan oleh Pangeran Damar Aryo (Arya Damar) pada tahun 1473 atau abad ke-15.
Berdirinya Kerajaan ini diawali dari Pangeran Damar Aryo seorang putra Prabhu Kertabhumi yang terusir dari Kerajaan Majapahit, yang mana Prabhu Kertabhumi adalah ayah dari Damar Aryo, Prabhu Kertabhumi terbunuh oleh Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya (Indrawijaya) yang merebut takhta Kerajaan Majapahit.
Xiao Ban Chi istri Prabhu Kertabhumi juga hendak dibunuh oleh Prabhu Wardhana, namun Xiao Ban Chi berhasil diselamatkan oleh Pangeran Damar Aryo dengan membawanya ke wilayah Kerajaan Majapahit di barat yaitu Indramayu. Pangeran Damar Aryo dituduh sebagai pelaku pembunuhan ayahnya dan dia juga dituduh sebagai perebut istri Prabhu Arya Kertabhumi. Dengan cara menyebarkan isu bohong seperti itu, Prabhu Girindrawardhana Ranawijaya (Indrawijaya) menjadi penguasa Majapahit.
Pangeran Damar Aryo mulai mendirikan Kerajaan Islam Dermayu dengan nama Dermayu yang berasal dari namanya sendiri yaitu Damar Aryo. Pangeran Wirakusuma yaitu Laksamana Wira Hwang Liong Samudra (wiralodra) seorang angkatan laut penghubung Dinasti Ming dan Majapahit, juga mendukung Pangeran Damar Aryo.
Kesultanan Dermayu didirikan atas upaya membentuk kekuatan untuk merebut takhta Kerajaan Majapahit yang direbut Prabhu Wardhana. Beberapa Pangeran Senopati Palembang dipindah ke Indramayu sebagai penunjang kekuatan Dermayu. Prabhu Girindrawardhana yang mengetahui Damar Aryo akan menyerang Majapahit melalui mata-matanya yang menyusup ke Dermayu, dengan cepat dia memerintahkan pasukannya menyerbu Dermayu.
Pasukannya mengalahkan Dermayu, hingga Sultan Damar Aryo beserta Pangeran Senopati Palembang terbunuh, sedangkan Xiao Ban Chi dalam rumor penduduk Indramayu, dia menceburkan diri ke Bengawan Dermayu dan jasadnya tidak diketahui, namun Raden Fatah berhasil diselamatkan Pangeran Wirakusuma (wiralodra) dengan membawanya ke Palembang. Hingga Raden Fatah merasa dendam dan membangun kekuatan baru di Demak untuk merebut takhta Kerajaan Majapahit atas dasar hak putra mahkota Prabhu Arya Kertabhumi.
Raden Wirakusuma lahir di Desa Banyu Urip Surabaya jaman Kerajaan Majapahit. Raden Wirakusuma adalah putra dari Raden Jaka Samudra atau Raden Jaka Paku alias Sunan Giri. Pada saat Raden Jaka Pa Kung dinobatkan sebagai Ulama Banyu Urip Surabaya, dia membawa istri dan anaknya pindah ke desa Banyu Biru Lowayu, Gresik, Jawa Timur.
Di sekitar pegunungan itu Raden Jaka Pa Kung mendirikan Padepokan agama Islam Giri (padepokan gunung) yang cikal bakal Kasuhunan Giri berdiri oleh Pangeran Abdull Supeno adik Pangeran Wirakusuma. Pada usia remaja, Wirakusuma diperintah oleh Jaka Pa Kung agar pergi ke wilayah Majapahit di barat untuk belajar agama islam kepada Syeikh Dzatul Khafi (syeikh koh po) disekitar bengawan Gumi Hwang (sukagumiwang, Indramayu), yang saat itu Syeikh Dzatul Khafi adalah Sunan Gunung Sari gumi wang sebelum pindah ke Cirebon.
Kemudian setelah lama di gumiwang, Wirakusuma juga diperintah untuk berguru pada Syeikh Subakhir di desa Lemah Abang (lemahabang, Indramayu), setelahnya berguru pada Nyimas Tjoen Tien (pandansari) di Juntinyuat, dan terakhir dia diminta untuk pergi ke barat belajar ke Padepokan Syeikh Quro di Tanjung Pura (karawang). Setelah itu, kakenya yaitu Laksamana Zheng Quan Long (Shi Jinqing) menurunkan jabatannya kepada cucunya sendiri yaitu Raden Wirakusuma dengan gelar Laksamana Wira Hwang Liong Samudra (wiralodra), dia bekerja sebagai penghubung Dinasti Ming dengan Kerajaan Majapahit yang mulai bertugas tahun 1467-1477.
Hal ini juga mengapa bahasa yang digunakan oleh penduduk Indramayu mirip dengan bahasa yang digunakan oleh penduduk Gresik dan Surabaya, termasuk juga dalam penggunaan bahasa sehari-harinya yang kasar. Namun yang paling utama adalah kata Reang (rekang) yang tidak hanya digunakan oleh penduduk Indramayu, melainkan juga digunakan oleh penduduk Gresik dan Surabaya.
Raden Jaka Samudra adalah putra dari Syeikh Maulana Ishaq, yang mana Syeikh Maulana Ishaq lahir di Samarkhan Uzbekistan dan putra dari Syeikh Jamaluddin Al-Akhbar asal Samarkhan. Syeikh Maulana Ishaq pergi ke Pulau Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Islam dan di Jawa Syeikh Maulana Ishaq memperistri Dwi Rara Sekar putri Prabu Menak Sebayu Raja ke-2 di Kerajaan Blambangan (Banyuwangi, Jawa Timur).
Prabu Menak Sebayu adalah putra dari Prabu Wirabumi atau Raja Blambangan ke 1 dan Prabu Wirabumi juga putra dari Raja Hayam Wuruk penguasa Kerajaan Majapahit.
Dari pernikahan Syeikh Maulana Ishaq dengan Dwi Rara Sekar menurunkan putra bernama Raden Jaka Samudra atau Raden Jaka Paku, yang juga Raden Jaka Samudra adalah Waliallah di Jawa yaitu Sunan Giri.
Raden Jaka Samudra atau Sunan Giri menikah dengan Shi Daniang (putri Laksamana Zheng Quan Long alias Shi Jinqing) dengan nama Jawa Dwi Warda asal desa Banyu Urip Surabaya pada masa Kerajaan Majapahit. Desa Banyu Urip Surabaya ini juga Raden Jaka Samudra dengan Dwi Warda menurunkan tiga anaknya bernama: Raden Wirakusuma (hwang liong), Raden Abdull Supeno dan Raden Ayu Dwi Pakutesan.

